Jumat, 26 Juni 2015

Berkah Gunung Himalaya

Hei-hei semuaa apa kabar :), kali ini gue mau posting secercah dari hasil karya gue *yaeelah bahasanya wkwk. Iya ini adalah cerpen terbaru dari gue,  cerpen ini gue bikin karna mau ikut lomba, muehehe. Agak panjang sih, tp semogaa semuaaaanya suka yaaa, kalo ada yg mau comment or kritik ya monggo :)

Berkah Gunung Himalaya
“Dita bangun, udah siang nih sayang”. Sebuah suara lembut membuat ku terbangun dari mimpi. Dengan malas ku kucek kedua mataku dan memaksa mereka untuk terbuka. Kulihat wajah Mami ku tersayang dengan samar. “Ia Mi, udah bangun kok”, jawabku disertai dengan uapan yang lebar. “Yaudah Mami turun dulu, kamu cepetan mandi terus turun buat makan”, timpal Mami. “Hemb iya”, sahutku masih dengan setengah sadar. Aku pun berniat untuk melanjutkan tidurku kembali barang 5 menit saja. Sumpah, mataku masih sangat berat untuk terbuka dan rasanya badanku pun enggan untuk berpisah dengan kasur yang empuk ini. Mungkin ini semua efek semalam. Ya, semalam aku begadang menonton pertandingan tim bola favorit ku. Baru saja aku akan melanjutkan tidur, hp ku berdering. Sebuah dering tanda sms masuk. Dengan mata terpejam, ku raba-raba sekelilingku untuk menemukan hp mungilku itu. Tidak kurang dari 1 menit akupun berhasil menemukannya. Dengan malas aku buka mataku, ingin ku lihat, siapa gerangan yang menggagalkan rencana mimpi indah ku pagi ini. Rupanya 1 pesan kuterima dari sahabatku, Rani.
Dit, kok kamu belom berangkat, emang tugas sejarah kmu udh slsai??
Aku Terdiam. Tugas? . Sekian detik kemudian aku baru menyadari tugas yang dimaksud Rani. “Yaampun aku lupa lagi kalo misalnya ada tugas sejarah yang mesti dikumpul pagi ini, Duh pikun banget sih”batinku pun mulai bicara. Entah mendapat kekuatan darimana aku pun langsung meloncat dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Buru-buru ku basuh muka ku dengan air di wastafel. “Akkkkkkkkkkkk!!!!!”, teriakku. “Yaampun kenapa nih jerawat bisa timbul segede ini di pipi ku. Duh, bisa diejek habis-habisan nih sama anak satu kelas. Astaga,aku mesti ngapain nih?”, tanyaku pada diriku sendiri di depan kaca wastafel. Dengan sigap aku pun langsung mengambil hp ku di tempat tidur. Ku search sebuah nama, dan mulai melakukan panggilan.
“Tut..tutt..tutt, Nomor yang anda tuju sedang diluar jangkauan
Belum sempat sang operator menyelesaikan pembicaraannya, panggilan pun ku akhiri. Aku pun memutuskan untuk segera mandi karena jam wekerku terus saja mengawasi ku,  seperti mengingatkan kalau ada tugas sejarah yang harus aku selesaikan. Setengah jam kemudian aku pun bersiap untuk turun menemui kedua orang tuaku.
Di bawah aku pun telah disambut oleh Mami dan Papi yang telah garing menunggu ku. Aku pun hanya nyengir tanpa merasa berdosa dihadapan mereka. “Pi capcus yuk ke sekolah”, ajak ku ke papi. “Loh, kamu enggak sarapan dulu?”, tanya papi. “Enggak ah pi ntar aja, udah siang nih soalnya”, jawabku singkat. Akhirnya aku dan papi pun berpamitan dengan Mami. Mami berpesan kepada ku agar nanti jangan lupa untuk sarapan di sekolah. Aku pun hanya mengangguk , memberi isyarat  iya kepada mami  dan segera menyusul papi ku yang telah berjalan duluan menuju mobil.
Sepanjang perjalanan kami membahas mengenai pertandingan bola semalam. Mengenai bagaimana hebatnya gol-gol yang tercipta semalam, mengenai wasit dan semua hal yang berkaitan dengan pertandingan semalam.  Aku dan papi memang memiliki hobi yang sama, yaitu menonton bola.  Kami pun sama-sama menyukai 1 klub bola yang sama. Bahkan tadi malam pun kami sama-sama begadang menonton pertandingan bola. Anehnya papi ku selalu bisa bangun pagi setelah begadang semalam suntuk menonton bola, beda halnya dengan aku yang mesti dibangunkan oleh mami. Tidak terasa akhirnya aku pun sampai di sekolah, segera ku ambil masker  dari dalam tasku, dan aku pun segera menggunakannya untuk menutupi jerawat ku yang membukit. Ya, aku memang sengaja menyiapkan masker anti polusi  itu agar jerawat ku itu tidak diketahui oleh anak-anak sekelas. Setelah merasa kalau jerawat ku aman, aku pun segera berpamitan dengan papi, dan bergegas menuju kelas.
Sampai di kelas, rupanya teman-teman ku pun masih sibuk dengan tugas sejarah. Hanya 3 orang yang duduk santai di kursinya.Sudah jelas ketiga orang itu adalah, Anto, Citra dan Radit.  Ketiga  murid itu adalah yang terpintar di kelas ku. Dan aku yakin jawaban yang dilihat teman-teman ku adalah pemberian mereka. Ya, mereka memang tidak pernah pelit dalam hal berbagi jawaban. Bukannya malas mengerjakan tugas, tapi kali ini aku memang benar-benar lupa akan hal itu. Masalahnya tugas itu dikumpulkan di hari Senin dimana tidak ada pelajarannya. Aku pun segera nimbrung dengan teman-teman ku yang sibuk, aku ingin ikutan melihat jawaban sejarah.  Aku bersyukur dengan tugas sejarah ini, sehingga semua teman-temanku pun sibuk dan tidak menanyakan perihal mengapa aku memakai masker di hari ini. Sambil terus menulis jawaban sejarah, aku terus memikirkan bagaimana cara untuk menghilangkan  jerawat raksasa ini. Belum selesai masalah jerawat ku ini tiba-tiba Anto berteriak dari kursinya, “Hei Dit, ciyeee yang semalem tim kebanggaannya menang. 3-1 lagi. Wihhh”. Aku pun hanya nyengir kepada si Anto. “Tapi gak seru ah kebanyakan diving. Hahaha”,ledek Anto. Anto ini memang anak yang pintar di kelas dan menurutku gak jelek-jelek amat sih, tapi  ada 1 hal yang gak aku suka dari dia. Anto ini sukaaaaa banget ngeeeledekin aku apalagi kalo sama tim bola favorit aku, berasa kayaknya ada dendam terselubung gitu. Bahkan semalam, ia pun sempat mengirim sms ledekan kepada ku sebelum pertandingan dimulai. Alhasil acara nonton pertandingan bola semalam pun dicampuri perang sms eje-ejekan antara Aku dan Anto. Sambil mengingat kejadian yang semalam , Aku pun membalas ejekannya yang baru saja ia lontarkan, “Bodo amat, wasit aja biasa aja, kok kamu yang sibuk”, sahut ku sambil terus mengerjakan sejarah.
Tak terasa bel masuk berbunyi, bertepatan dengan selesainya pula aku menyalin jawaban sejarah. Aku pun segera menuju ke kursi ku. Aku duduk di samping Rani, sahabatku. “Parah susah banget Ran, hubungin kamu pagi ini”, kataku kepada Rani sambil mengeluarkan buku ekonomi. Ya pelajaran pertama adalah ekonomi. “Eh ngapain hubungin aku pagi-pagi?”,Rani balik bertanya padaku. “Ah, udah ah gak ada apa-apa”. Aku berusaha untuk sebiasa mungkin dan berharap Rani tidak menanyakan perihal mengapa aku mengenakan masker. Dan ternyata harapanku kali ini tidak dikabulkan. Rani yang memang begitu usil, langsung melepaskan masker ku seraya bertanya,”Eh ngapain make masker ke…Hahahahahaha itu apaaa itu, yaampun kamu abis ngapain sih dit??hahaha”. Rani yang awalnya ingin bertanya alasan aku memakai masker,langsung tertawa terbahak-bahak melihat apa yang ku sembunyikan dibalik masker ku ini. Takut ketauan oleh anak-anak yang lain, aku pun segera memakai kembali masker ku itu, seraya menutup mulut Rani yang tidak berhenti tertawa. Setelah puas tertawa, ia pun bertanya pada ku, “itu kenapa bisa segede gunung Himalaya? Kamu apain tuh jerawat dit?”.”Stttt, jangan berisik, ntar ketauan anak-anak yang lain kan gawat”, ucapku padanya sambil melihat sekeliling. “Aku juga gaktau kenapa bisa gini, bangun-bangun udah gini, makanya tadi pagi aku nelfon kamu, mau minta bantuan kamu, eh tapi kamu malah gakbisa “, jelasku. “Iya deh iya maaf, oia kasih odol aja, odol itu katanya ampuh loh, seampuh deterjen XYZ yang bias menghilangkan noda membandel”, katanya seperti mbak-mbak spg yang sering aku lihat di mall. “Iyadeh iya ntar aku coba”, timpalku. “Eh mana buku akuntasi kamu?”, tanya Rani santai. “Astagaaa Ran, aku lupa bawa lagi, ketinggalan di meja belajarku, Duh gimana yaaaa”, jawabku panik. “hah?? Serius dit? Yaampun kamu kayak gaktau aja sih Bu Nisa itu kayak mana, bisa-bisa nilai kamu besok dikasih pas kkm deh sama dia”. Rani yang kuharap memberikan bantuan malah makin membuat ku panik. Bu Nisa memang terkenal di kalangan Anak IPS, dia tidak segan-segan memberikan nilai pas kkm di rapot untuk siapa saja yang melakukan kesalahan di pelajarannya, entah itu tidak membawa catatan, buku cetak, buku akuntasi dan masih banyak yang lainnya. Namun tiba-tiba ketua kelas masuk ke kelas dan memberitahukan bahwa hari ini Bu Nisa tidak masuk, beliau sedang sakit sehingga beliau hanya menitipkan tugas untuk dikerjakan di secarik kertas. “Huft untung aja Dit, selamet kamu kali ini”, kata Rani. “Iya, untung aja yaa”, jawabku dengan senyum yang mengembang. “Berkah Gunung Himalaya mu lagi tuh, hahaha”, timpal Rani. Aku yang mendengar ejekan Rani pun langsung membelalakan mata kepada Rani dengan isyarat agar ia diam dan berharap tidak ada seorang pun yang mendengarnya.
Pelajaran Bu Nisa belum selesai, namun perutku rupanya sudah menunggu untuk diisi. Aku pun baru ingat kalau tadi pagi aku belum sempat sarapan. Ku ajak Rani untuk menemani ku makan di pagi. Tapi rupanya ia membawa bekal. “Duh bagaimana ini? Rani enggak mau diajak ke kantin terus gimana perut aku bisa kenyang? Gara-gara tadi pagi gakmau sarapan dulu sih”, umpatku dalam hati. Rupanya Rani mengerti kalau semisalnya perutku benar-benar keroncongan. Ia pun mengeluarkan kotak bekalnya dari dalam tas dan memberinya kepada ku. “Nih, makan ini aja, lumayan buat ngeganjel tuh perut”. “eh beneran? Trus ntar kamu makan apa?”, tanyaku. “Aku bawa 2 bekalnya,jadi kamu tenang ajaa”, sahutnya enteng. Aku pun segera memeluk Rani sebagai rasa terimakasih ku, tapi sialnya ia malah berteriak, “Apaan sih Dit, kamu Maho?? Itu tuh berkah gunung Himalaya kamu tau, Hahaha”, timpalnya. Lagi-lagi aku melotot kepadanya dan terpaksa menutup mulut Rani karena takut ada yang mendengarnya.
Akhirnya tak terasa bel pulang sekolah berbunyi, dengan malas aku pun memasukan semua buku ku ke dalam tas. Semua anak pun segera menuju ke luar kelas, hanya tersisa aku dan beberapa murid, sampai akhirnya hanya tersisa aku dan Anto. Ia lalu menghampiri aku dan bertanya, “Jadi gimana dit?”. “Gimana apanya?”, tanyaku bingung. “Gimana jawaban kamu?”, “Hah jawaban?Jawaban apa?”,tanyaku lagi. “Kan semalem aku uda nembak kamu, jadi gimana keputusan kamu?”, jelas Anto. “Jadi kamu beneran nembak aku?”,tanyaku lagi. “Iyalah Dita aku beneran”,jelasnya dengan lembut. Aku pun mengingat percakapan ku semalam dengan Anto, Ia memang sempat berkata kalau ia suka dengan ku, dan ia berharap kalau aku akan menjadi pacarnya. Namun aku pikir itu semua hanya lelucon, bukankah ia selama ini terus mengejek ku? Pikir ku dalam hati. “Eh tapi bukannya selama ini kamu selalu mengejek aku dan ngajak berantem?”, tanyaku padanya. “Astaga ,masa kamu gak ngerti sih Dit, kalo itu semua aku lakuin karena aku mau selalu deket sama kamu”, jelas Anto. “Jadi gimana nih?”, timpalnya. “emb gimanaa yaa?? Aku ..aku kayaknya gak bisa deh To. Aku gak bisa buat nolak kamu”, jawabku dengan senyum. Anto pun terlihat begitu senang dengan jawabanku. Dia pun segera mengajakku untuk keluar kelas dan berniat untuk mengantarkan aku pulang. Di perjalanan, hp ku bergetar, ada 1 sms masuk dari Rani.
Ciye, yang udah pacaran selamet ya J
Aku pun membalas sms Rani.
Eh tau darimana kamu?
Hp ku bergetar kembali. 1 sms dari Rani.
Yeee, si  Anto mah udah cerita ke aku kalo dia suka sama kamu, dan semalem dia ngmong kalo misalnya hari ini dia mau nembak kamu. Dan barusan aku liat kalian udah pulang bareng, jadi kesimpulannya kamu pasti nerima dia kan wkwkw.
Aku kembali mengetik sms balasan untuk Rani.
Dasar kamu ini gak cerita-cerita ke aku.
Hp ku bergetar lagi.
Yee kalo cerita gakbakal jadi kejutan. Yang penting kan sekarang kamu udah jadian sama si Anto,wkwk. Berkah Gunung Himalaya lagi tuh. Hahaha :D
Aku pun segera mengetik kembali balasan untuk Rani.
Awas yaa kamu Ran!!!eh btw ntar aku mau nyoba saran dari kamu, tapi kalo ada apa-apa kamu harus tanggung jawab pokoknyaa :P
Aku pun kembali lagi ke dunia nyata. Di sepanjang perjalanan pulang aku mendengar alasan-alasan kenapa Anto suka kepada ku. Dia bilang kalo awalnya sih karena dari ledekan-ledekan kecil yang biasa dia lakukan kepada ku. Dan aku terus mendengarkannya sambil tertawa kecil sambil terus memikirkan bagaimana menghilangkan si gunung Himalaya ku ini -_-


end


Tidak ada komentar:

Posting Komentar